Kampoeng dan Kesederhanaan

m wiyonoMengingat masa kecilku di kampung yang nyangkut di pikiranku, hidup dengan segala keterbatasan sebagai jati diri bocah kampung, saya tidak bisa membayangkan bagaimana sederhanya pada saat aku dilahirkan. Mungkin pada saat itu makhluk mulya yang bernama manusia ini hanya sekedar mempertahankan hidup (life survival) saja sudah hebat, kekayaan pada waktu itu hanya berupa tanah dan sawah, tetapi untuk menggarapnya hanya dengan dua tangan tidak mungkin ‘ngayahi’ dengan tanah yang luas itu, wal hasil banyak lahan nganggur, dan imbasnya adalah lagilagi kesederhanaan dan hanya cukup untuk biaya makan saja.
Peralatan semua didasarkan pada tenaga manusia dan tenaga hewan seperti pacul, bajak sawah dengan kerbau atau sapi, ngarit ‘ngangon’ kambing. Pada waktu itu tentu tidak ada yang berfikir arti penting pendidikan dalam merubah taraf kehidupannya..
Dalam tulisan ini tentu yang saya ingat adalah masa kanak-kanak, meskipun tiak menjadi kesatuan cerita yang utuh. Saya masih sadar bahwa saya dahulu berpetualang di sawah dan belakang rumah yang masih banyak lahan kosong dalam mencari mainan, semua mainan adalah produksi jam jempol tangan alias kreatifitas sendiri, bila musim tanah liat maka mencari tanah liat untuk membuat mobil-mobilan, gangsing dari tanah (jw: suweran), timbulan, yaitu membuat bangun ruang dari tanah untuk di timbulkan di air, mencari ikan, mencari belalang, membuat trompet dari dahan daun pepayah dan seterusnya.
Namun saya masih ingat bahwa tugas ngaji di masjid adalah tugas utama, berbeda dengan delapan saudara saya yang harus bekerja di sawah secara disiplin ala ala militer, he..he..he…
biografi mwiyono
Yang paling mengesankan adalah pada saat sholat subuh, jika tidak dibangunkan untuk jama’ah ke masjid saya ngambek sampai pagi hari dan bahkan berangkat ke sekolah dengan hati galau. Kesederhanaan dan bahkan memprihatinkan masa kecil ku terbawa hingga ke dunia pendidikan formal, masa-masa sekolah di Madrasah Ibtidaiyah desa tetangga harus rela berlantai pasir, berdinding anyaman kayu bambu, bahkan tidak jarang jika terpaksa kencing di dalam kelas hohoho.. sebuah masa yang sulit terlupakan
Sayang sekali masa tersebut tidak bisa diabadikan dengan grafik photo hanya bisa dilukiskan dengan coretan kata. Namun tergambar apik, bahwa permainan ‘tempo doeloe’ dengan sekarang sudah sangat jauh berbeda dan berbeda, yah sangat berbeda. Saat ini tidak banyak yang mempunyai kreasi dalam membuat permainannya sendiri, sedangkan masa sulit masih kecil mengandalkan imajinasinya untuk kreasi mainannya.
Aku tergolong anak yang rajin ke masjid, meskipun dalam kegelapan dan jalan yang beceknya luarrr biasa, saya selalu pulang dengan rasa ketakutan. Terkadang harus lari sambil mata tertutup dari ujung jalan hingga sampai rumah karena ketakutan akan gelap.

Pulang sekolah yang rekreatif

Dahulu berangkat dan pulang sekolah dengan jalan kaki adalah suatu hal yang lumrah, karena masih beberapa orang kaya saja yang punya sepeda onthel, setiap pagi rame rame berduyun-duyun berangkat sekolah dengan jalan kaki, sepanjang jalan ketemu dengan orang orang yang bisa disapa dengan ramah dan saling menghormat kepada orang yang lebih tua, berbeda sekali dengan masa sekarang yang hanya menyapa dengan bunyi klakson, bahkan pak guru berjalan kaki dari satu desa ke desa lain adalah sudah bukan pemandangan yang aneh.
Pulang sekolah dengan jalan kaki beramai-ramai terlebih pada saat musim hujan tiba, sepatu dikalungkan di leher, berjalan menyusuri jalan becek sambil main air, persisi ayaknya bukan anak pulang sekolah tapi pualang dari sawah, air masih jernis, mengalir deras sambil mencari ikan dan apapun yang bisa dimakan, penuh riang dan canda tawa disepanjang jalan bersama teman teman, rasanya setiap menyusuri jalan tersebut selalu teringat titik demi titik yang pernah sering disinggahi. Meskipun keadaannya sudah berubah total seratus persen.
Beruntung sekali di peghujung kelas enam saya dinobatkan sebagai pelajar teladan se-Kec. Balongpanggang setelah mengikuti seleksi. Dan lulus dengan predikat yang memuaskan sekali.
Setelah lulus ada beberapa guru yang bersikeras menanggung biaya sekolah saya di tingkat menengah pertama, waktu namanya Pak Suud ingin supaya saya sekolah di situ, karena ada Madrasah Tsanawiyah dan beliau siap menggeratiskan, sedangkan guru saya satunya lagi namanya P. Rozak ingin pula memboyong saya untuk sekolah di SLTP Swasta Gempol, namun seribu maaf keduanya tidak ada yang saya pilih meskipun bea siswa full, saya mengikuti jejak langkah kakak saya sekolah di MTs Negeri Gresik, meskipun jaraknya kurang lebih 7KM dengan membawa sepeda onthel.

Di MTs N alhamdulillah sama sekali tidak mengalami kesulitan, dan secara ranking sangan memuaskan antara ranking 1 dan 2 hanya sekali atau dua kali saja mendapat peringkat 3 di kelas.

Setiap sore saya harus mengisi minyak ke kaleng susu (baca: obor) untuk penerangan belajar di waktu malam, dengan kesederhanaan tersebut saya masih mampu mengungguli siswa lain yang sudah ada penerangan PLN dengan programnya Pak Harto PLN masuk desa. Saya mensiasati menyalin dengan tulisan tangan dari teman teman yang mempunyai buku pegangan siswa, karena saya tidak dibelikan buku pegangan siswa, maklum semua harus dilakukan karena keterbatasan kedua orang tua saya yang sudah berpisah sejak saya masih dalam usia menyusu (kurang lebih 2 tahun)
Sayang sekali pada saat duduk di bangku Madrasah Tsanawiyah atau tepatnya tahun 1985 saya tidak aktif di organisasi sekolah apapun, termasuk pramuka, bahkan yang saya dapati pada saat ikut latihan pramuka adalah bentuk angkare itupun harus diketawain terlebih dahulu, karena pada saat peserta lain bisa membentuk angkare, saya hanya diam saja, karena tidak tahan malu maka hanya itu lah sekali kalinya ikut latihan pramuka hahaha. Dengan kesadaran yang maksimal disekolah ini saya tidak memaksakan anak anak yang tidak suka dengan ekstra kurikuler pramuka karena pelajaran ekstra adalah pelajaran untuk menyalurkan hobby, hal itu tidak bisa dipaksakan
Setelah lulus dari MTs N pada tahun Mei 1992, tidak punya pilihan lain untuk melanjutkan ke jenjang berikutnya, kedua kakak saya berbeda pendapat, satu sisi ada yang menghendaki ke Sekolah Tekhnik Mesin (STM) tapi ada juga yang mendorong untuk melanjutkan ke pesantren, perlu dimaklumi karena sang Ayah sudah tidak tinggal serumah meskipun masih satu kampung, dengan tekad yang kuat ada salah satu saudara yang siap menanggung semua biaya pendidikan saya dengan catatan harus meneruskan ke jenjang selanjutnya di sekolah Madrasah Aliyah maupun SMA asalkan tinggal di pesantren.
Zaman itu informasi pondok pesantren tidak seperti sekarang, mudah diakses di internet bahkan dengan telpon seluller bisa didapat semua informasi tentang pesantren, karena yang aku tahu bahwa pada saat perlombaan kalah dengan Sekolah Assa’adah di daerah Sampurnan Bungah Gresik, maka pilihanpun jatuh di pesantren Sampurnan Bungah Gresik, di sana ada banyak pesantren tapi sekolah yang paling menonjol adalah MAN Gresik dan Masdrasah Aliyah Swasta Assa’adah, saya mendapat banyak informasi bahwa Madrasah Aliyah Swasta di sana lebih bayak konsentrasi pelajaran Agama dan ilmu alat lainnya seperti Balaghah, Mantiq, Ushul Fiqh, Asbabun Nuzul terutama Nahwu dan Sharf maka ku jatuhkan pilihanku untuk sekolah di MA Assa’adah dan tinggal di Pesantren Al Ishlah
Disana tak berhenti meimba Ilmu hampir setiap harinya berguliat dengan pelajaran ke-araban sehingga sangat akrab dengan bahasa Arab dengan berbagai pranata keilmuan lain yang mendukungnya. Banyak kenangan yang terukir di sana dengan kesederhanaan dan biaya yang sangat minim kujalani hidup sebagai seorang santri dengan padat kegiatannya minta ampuun.
Sebagai gambaran kegiatan pesantren dilakukan Selama bertahun tahun adalah sebagai berikut;
02.00 :Bangun tengah malam
03.30 :Sholat Subuh
05.00 :Ngaji kitab nashaihud-diniyyah
06.00 :Kemudian Talaqqy al Qur’an
06.45 :Masak dan berkemas berangkat sekolah
07.00 :Sekolah sampai jam 01.00
12.00 :Sholat Dhuhur berjama’ah
13.00 :Ngaji kitab Nahwu-Shorf
14.00 :Persiapan sholat ashar dan mencuci
16.00 :Sholat Ashar
16.15 :Ngaji bandongan bersama Romo Yai
17.00 :Ngaji kitab kepada ustadz yang ada di pesantren
17.30 :Sholat Maghrib
18.00 :Madrasah Diniyyah
20.00 :Sholat Isya’
21.00 :Ngaji kitab nahwu
22.00 :Belajar pelajaran sekolah
23.00 :Kemudian istirahat
Meskipun kegiatan yang padat tetapi sedikitpun tidak terasa lelah, bahkan tak jarang tidak kebagian waktu untuk mencuci atau masak dan makan dengan tenang. Sungguh berkah hidup dipesantren, atas dasar inipula berharap agar anak dan keturunan saya mengikuti jejak langkah orang orang terdahulu yang selalu sibuk untuk khidmah kepada Allah swt,
Madrasah diniyyah terdiri dari dua jenjang, yaitu jenjang Awwaliyah 3 tahun dan Wasathiyyah 3 tahun, bersyukur kedua jenjang tersebut bisa saya tempuh dengan masa 3 tahun saja. Setelah dirasa mempunyai kemampuan sedikit lega saya meberanikan kumpul dengan orang orang sepuh untuk ikut ngaji kitab Ihya Ulumuddin, master piece karya Imam Ghazali, dan setiap jumat pagi ikut pula kajian kita tafsir muniir.
di take: 8 Oktober 2014
Romo yai dikenal sebagai ahli tafsir dan ilmu alat, Nahwu, Shorf, balaghah dan Manthiq. Berbondong-bondong orang orang dari mana-mana hadir di dalam di majlis pengajiannya, beliau sangat renyah dalam mencerna isi kitab, sehingga di tangannya kitab gundul seperti sudah kitab yang berjenggot, makna yang musykil menjadi mudah. Subhanallah Romo Kyai Maimun memang sosok kharismatik yang luar biasa kedalaman ilmunya.